Fungsi indera sudah bias.
Menuntut telinga mengendus kabar.
Memaksa lidah untuk tenang mendengarkan sabar.
Penciuman tidak lagi setajam ujung jarum.
Mengandalkan penglihatan untuk menikmati asmara,
semakin mengharum.
MYS
Aspal jalanan
Ratusan lampu merah
bertitik-titik membentuk garis
Menajamkan tujuan ratusan kilometer,
melewati batas lepas landas
Siap membungkam rasa yang hampir kandas
Escapingroad
Menggantung dan meluap agresif.
Terlalu lama dalam pasif
Bukan saatnya senang,
juga tidak bisa tenang.
Tujuan menjadi militan sekarang adalah pilihan.
Sempurna hampir sirna, 24th Thamrin
14.05.12
Adalah sebuah senja, dengan warna yang biasa,
tidak ada yang spesial, hanya aroma tubuh yang melekat erat,
terpenjara di tepi indera, terkoneksi dengan neuron otak,
menciptakan sejenis keabadian waktu dan tempat.
Kita terbata-bata membaca satu sama lain,
saling berlarian mengejar arti yang melebur,
semakin lama semakin membayang,
semakin larut, semakin terlarut.
Akan ada pergantian hari, pelaku, peristiwa,
tapi satu dan lusinan ingatan tidak mudah lungsur,
bukan hari ini, tidak juga esok,
tak secepat itu.
Match! Maret 2012
- seorangsenja.blogspot.com / AURELIA TIARA WIDJANARKO
If that’s what you really want
I will stay this way
doesn’t mean we’re on the intersection of the word irony
but we do have different tastes and interests
If rainbow is colorful
in my eyes they’re just black and white
Because difference is godsend
Kala kata menantang mata
menciutkan tingkah di sudut pendengaran
Bicara adalah sepak terjang
namun gerik harus tetap tajam
Bukan lancang bertutur kata
tapi lantang merubah daya
Talk less do more
“Siap mencari oase di gurun mimpi? Siapkan perbekalan khayalan untuk tetap bertahan”
In collaboration with http://www.pagehmenggambar.blogspot.com
Copy VS Visual
Terlalu gamang kalau berpikir masa depan
Kita urus saja yang terjadi sekarang,
daripada hanya diam saling memandang
Masa lalu juga begitu,
tak akan kembali jika dikejar,
malah membuat jatuh dan nanar
Detik ini kita bicara
Menit selanjutnya kita tertawa
Hari sebelumnya kita bukan siapa-siapa
Tingkat 24 saat senja
Menipu jalannya realita,
ketika suatu hari keadaan menggila,
memicu sekelompok massa dengan beberapa senjata.
Masih banyak yang menyimpan tanda tanya,
tapi tiada berguna akibat timbunan sandiwara.
Berbohong tidak lagi terbata-bata,
sudah zamannya fasih dalam bersilat lidah.
Selamat berdosa para Penerima Kuasa.
Semoga kalian rindu pada masa lalu.
Sebelum tanggal 1 April
Kesempatan memang tiada bertuan
aku tidak menyangkal juga kalau itu coretan Tuhan
Jangan pernah merasa dunia tiba-tiba sirna
tanpa mencari tahu apa itu sempurna
Kesempatan sirna?
Tenang, Tuhan masih punya banyak cerita
Banyak jalan menuju bahagia
Babak yang lain jangan sampai lepas!
Tehku teraduk
Tehmu teraduk
Kudapan kita habis
Lidah kita hambar
Percakapan selanjutnya berakhir mati rasa
Untuk apa lagi kita bersua,
kalau acara minum teh saja terasa lama
rooftop sudah gelap
Dibalik kata GOKIL ternyata terdapat sebuah cerita yang mungkin belom pernah kalian denger. Gue jamin itu. Oke, sebelumnya kita kenalan dulu dengan kata ini. Pada saat kapan kita melontarkan kata ini?
Ketika cowok ngeliat cewek yang “haduh” lah pokoknya dan mereka akan bilang,
“GOKIIIILLL, parah nyet ngiler guee!! Bening bangeet..” *cewek apa aer kolam*
Terus saat seorang techno freak ngeliat fitur keren di gadget terbaru
“Wah, gokil nih bisa begini tampilannya”
Lalu saat seseorang yang sok asik tapi ga terlalu mengerti apa yang lagi diomongin temennya,
“Anjir, serius lo man? gokil gokil gokil” *bukan ipin kembarannya upin yah*
Dan masih banyak lagi kekaguman yang diwakili dengan kata “gokil”. Nah, ternyata kata ini memiliki asal-usul dan kalo usul ga boleh asal *terdengar familiar di TV*. Kata yang memiliki arti harafiah mirip dengan “keren” ini di populerkan sekitar tahun 2000an dikalangan anak muda Jakarta.
Suatu ketika ada segerombolan anak SMA X yang sedang nongkrong sambil teriak-teriak. Ternyata mereka sedang mengatur strategi untuk tauran dengan SMA Y. Mereka tidak terlihat urakan sebab tauran ini bukan sekedar tauran biasa, yang menggunakan kekerasan dengan ekor ikan pari, kopel ikat pinggang, gear sepeda, batu ataupun centong nasi milik nyokap. Ternyata oknum dari tauraners (red: penggemar tauran) ini mereka sangat menjunjung tinggi sebuah kreatifitas. Mereka mengikuti tauran yel-yel yang paling keren se-antero Jakarta. Tauran ini memiliki syarat, bahwa yel-yel yang di ikut sertakan harus menjunjung tinggi ke-ganas-an, mesti garang, seram dan memilki daya serang yang mumpuni. Bagaimanakah caranya membuat yel-yel seperti itu, itulah tugas mereka kawan. Lalu, anak-anak dari SMA X mencorat-coret kata yang mereka rasa pantas diucapkan para lelaki seperti,
“Haaaaaaann„„curkaaaAAANN”
Tapi beberapa anggota tidak setuju karena ada kata “cur” disana. Saya juga tidak mengerti dengan alasan itu. Selanjutnya mereka membuat kata baru dan berteriak bersama untuk mengetes kekuatan kata-nya,
“AABISIIIN, ABISIIIN, ABISIIIIIIIIN”
Karena yel-yel ini beberapa anak menjadi trauma, karena teringat oleh omelan Ibunya yang selalu kesal kalau makanan anaknya tidak habis dan diakhiri dengan ancaman,
“Abisin ga! Kalo ngga, PS kamu mamah jual!”
Lalu datanglah ide dari beberapa anak yang cerdas, memiliki talenta dalam berbahasa Inggris dan berpenampilan menarik, cocok buat jadi anchor pembawa berita TV. Mereka membuat yel-yel dengan bahasa Inggris yang bisa memprovokasi teman-temanya untuk berbuat menakutkan, akhirnya muncul lah kata yang menjadi idola sampai sekarang,
“GOOO KILL, GOO KIIIILLLL, GOOO KILLL”
Pada saat ditanya para juri Tauran Yel-yel mengapa menggunakan kata ini, mereka memaparkan panjang lebar tentang filosofinya yang intinya saat mereka meneriakan kata “GO KILL” ini SMA yang menjadi lawan mereka akan terbunuh kreatifitasnya dan akan malu pernah bertanding dengan mereka. Jadi, karena filosofi dan alasan yang kuat inilah anak-anak SMA X menjadi terkenal karena yel-yel mereka yang keren. Akhirnya sebagai hadiah, yel-yel mereka “GO KILL” bisa digunakan oleh orang banyak untuk mengganti kata “keren”.